"Kami tidak takut ke Stamford Bridge"
Gelandang Inggris itu menegaskan Arsenal datang ke London barat untuk menang, bukan sekadar tidak kalah, dan menilai tekanan justru ada pada tuan rumah.
Bola bukan cuma 90 menit. Di sini ada obrolan taktis, kilasan video, wawancara panjang, dan surat dari penonton Indonesia.
Episode baru setiap Rabu. Tersedia di Spotify, Apple Podcasts, dan YouTube.
"Kami tidak takut ke Stamford Bridge"
Gelandang Inggris itu menegaskan Arsenal datang ke London barat untuk menang, bukan sekadar tidak kalah, dan menilai tekanan justru ada pada tuan rumah.
"Palmer pemain paling sulit yang pernah saya jaga"
Bek tengah Prancis membahas persiapan khusus yang dirancang pelatihnya untuk membekak Cole Palmer, termasuk latihan komposisi tim yang belum pernah dipakai musim ini.
"Yamal belajar lebih cepat dari siapa pun"
Rekan senegaranya itu bercerita soal kebiasaan Yamal menonton ulang momennya sendiri setiap laga, dan prediksi perkembangan bintang muda tersebut dua musim ke depan.
"Inter? Kami punya rencana khusus"
Setelah luka lama, Rashford bicara soal fisik yang mulai kembali 100 persen dan bagaimana manajernya menyiapkan skenario menembus lini pertahanan terbaik Serie A.
"Kami bermain untuk kota ini"
Kapten Nerazzurri berbicara soal tekanan derby, hubungannya dengan curva, dan target pribadi yang belum pernah ia sebut di media.
"Bundesliga membuat saya lebih cepat"
Wirtz menjelaskan bagaimana ritme liga Jerman mengubah cara ia membaca ruang, dan peran pelatih dalam memindahkannya ke sisi kiri.
"Bukan soal uang, soal kepercayaan"
Penyerang Nigeria itu menceritakan proses panjang negosiasi kontrak, dan alasan ia memilih bertahan meski tawaran datang dari tiga liga.
"Fans Indonesia pantas dapat lebih"
Bek timnas membahas persiapan kualifikasi, fasilitas latihan, dan harapan agar sepak bola nasional tidak berhenti pada euforia satu turnamen.
Sudah 20 tahun jadi fans United dan musim ini paling sering saya teriak di depan TV. Tapi justru itu serunya — kamu tidak pernah tahu yang mana United yang datang.
Kenalan dengan bola karena ayah, sekarang saya yang menyalakan TV jam 2 pagi. Anfield memang jauh, tapi satu Indonesia semua ikut bernyanyi.
San Siro bukan sekadar stadion, itu katedral. Kalau Milan menang malam itu, besoknya seluruh warung kopi di gang saya bahas sampai sore.
Dulu dibilang fans Arsenal hanya ikut-ikutan. Sekarang kami tim paling konsisten di Inggris dan saya menang taruhan kopi dengan teman tiga minggu berturut-turut.
Kakek saya fans Juventus sejak Platini. Saya tumbuh dengan poster Baggio di kamar. Sekarang saya yang bangun jam 2 pagi, dan anak saya ikut menonton.
Kami punya grup nonton bareng 40 orang di kafe kecil dekat kampus. Kalau Barca menang, kopi gratis untuk semua. Dua kali musim ini saya bangkrut.
Jam kerja tambang bikin saya jarang nonton langsung. Tapi setiap Minggu pagi saya buka highlight sambil sarapan, dan itu sudah cukup jadi ritual.
Banyak yang bilang fans PSG cuma ikut-ikutan. Tapi saya mulai tahun 2013, waktu masih ada Jallet dan Camara. Saya tetap di sini sampai sekarang.